Home > Tips > Tahap-tahap Menjadi Advokat

Tahap-tahap Menjadi Advokat

Magang, Siap Kerja ”Rodi” Dua Tahun

 Jika Anda mengira politik dan selebritas merupakan jalan paling pintas meraih kekayaan, maka Anda keliru. Lawyer atau advokat menduduki  urutan dua profesi  yang paling gampang mencetak miliarder.

Makanya wajar profesi advokat menjadi incaran banyak orang. Semakin banyak pejabat yang terkena kasus korupsi serta mudahnya artis kawin-cerai menjadi lahan empuk bagi mereka.

Program studi yang berkait hukum bertaburan di negeri ini. Untuk prodi ilmu hukum saja dibuka lebih dari 300 perguruan tinggi. Ini  merupakan yang terpadat selain ekonomi, akuntansi, dan teknologi informasi.

Tapi memang tak mudah menjadi lawyer. Dalam UU No. 18/2003 tentang Advokat, usai lulus sarjana hukum, mesti melalui setidaknya tiga tahap untuk menyandang gelar pengacara. Jika tidak, maka tidak berhak  dan tentu saja tak boleh berpraktik.

Seperti apa tahap-tahap? Setidaknya ada tiga jalan berliku yang mesti Anda lalui jika ingin menjadi Advokat. Awalnya mengikuti Pendidikan Profesi Khusus Advokat (PKPA) yang diselenggarakan organisasi profesi.

Selanjutnya, wajib magang di kantor advokat setidaknya dua tahun secara terus-menerus. Tak mudah mencari tempat magang.  Ini mengingat sedikitnya kantor advokat. Tak sebanding dengan populasi sarjana hukum. Apalagi selama magang biasanya tak digaji. Bayangkan, betapa menderitanya dua tahun bekerja tanpa gaji.

Tuntas ”kerja rodi” selama dua tahun, status pengacara belum tentu didapat karena harus lulus Ujian Profesi Advokat (UPA). Berdasar pengalaman, tingkat kelulusan sangat rendah. Hanya berkisar 30-an persen. Sisanya berarti gigit jari.

Dengan konstruksi semacam itu, menjadi advokat ibarat menembus leher botol. Berdesakan di antara lubang sempit. Wajar kiranya para calon advokat muda mencurigai hal ini merupakan rekayasa advokat senior untuk membatasi lahirnya pengacara baru. Mereka ingin terus merasakan nikmatnya ”memonopoli” penanganan kasus-kasus hukum yang terus bermunculan di negeri ini.

Padadal sebenarnya tujuannya bukanlah itu. Lantas? Tentunya untuk meningkatkan profesionalisme advokat. Kenapa? Selama ini pendidikan akademik di kampus lebih mengedepankan kajian teori. Sedangkan keterampilan praktik beracara, termasuk bagaimana trik memenangkan klien, hanya bisa dipelajari melalui learning by doing.

Menjadi advokat, tak cukup bermodal ilmu hukum. Tak kalah penting materi-materi yang berkait dengan spesialisasinya. Misalnya advokat bidang asuransi, tentu harus memahami aturan asuransi dan kesehatan. Jika ada klien asuransi meninggal, bagaimana membuktikan sebab-sebab dia mati? Apa itu karena penyakit yang masuk dalam klausul polis atau karena sebab lain?

Namun yang pasti, untuk menjadi seorang advokat mesti harus luwes bergaul dan pandai melobi. Suatu kasus tak harus diselesaikan melalui jalur hukum. Justru diutamakan agar pihak yang bersengketa berdamai untuk mencari win-win solution. Keterampilan melobi ini hanya bisa dipelajari melalui praktik.

Bagaimana? Anda masigh tertarik menjadi advokat? Tidak salah jika mengikuti tahap-tahap di atas.

Categories: Tips Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: